5 Langkah Meningkatkan Kemampuan Menulis Anda

5 Langkah Meningkatkan Kemampuan Menulis Anda

July 2nd, 2010 | Author: Mohammad Jeprie | Posted in: Artikel | 38 Comments

“Ikatlah ilmu dengan menulisnya”, begitu kata mutiara Ali bin Abi Thalib. Menulis bisa membuka jendela informasi baru, menulis bisa mempercepat proses belajar Anda, menulis juga bisa menjadi pekerjaan yang menarik dan menghasilkan. Namun kenyataannya tidak semua orang bisa menulis. Dalam artikel ini, saya akan membahas lima langkah yang akan membantu Anda meningkatkan kemampuan menulis.

Jeprie dilahirkan dengan kemampuan super power. Menembus dinding dan terbang dengan kecepatan cahaya hanyalah sebagian dari kemampuannya. Tidak banyak orang yang tahu ini, karena identitasnya tersembunyi di balik kaca mata dan rambut ikalnya. Ketika keadaan aman dan terkendali, dia selalu meluangkan waktu untuk menggambar mockup PSD, menulis buku, dan berbagi tutorial di beberapa situs besar seperti psdtuts+.

“Ikatlah ilmu dengan menulisnya”, begitu kata Ali bin Abi Thalib. Menulis bisa membuka jendela informasi baru, menulis bisa mempercepat proses belajar Anda, menulis juga bisa menjadi pekerjaan yang menarik dan menghasilkan. Namun kenyataannya tidak semua orang bisa menulis. Dalam artikel ini, saya akan membahas lima langkah yang akan membantu Anda meningkatkan kemampuan menulis.

1. Membaca

Membaca harus selalu menjadi daftar aktivitas Anda yang pertama. Dengan membaca, artinya Anda mempunyai lebih banyak sumber, referensi, dan informasi untuk ditulis. Membaca di sini tidak berarti harus buku, koran, atau majalah tapi juga halaman-halaman di internet.

Dalam membaca di internet biasakan juga untuk membaca link-link yang disarankan penulis. Baca juga komentar-komentar yang ada, walaupun sekilas, kadang mereka memberikan informasi tambahan. Gunakan fasilitas bookmark untuk menyimpan link-link menarik, siapa tahu salah satunya akan jadi referensi bagus untuk tulisan Anda.

2. Menulis

“The key to writing is writing.” - Sean Connery

“The key to writing is writing”, begitu yang dikatakan Sean Connery ketika berperan sebagai penulis pemenang Pulitzer di film Finding Forrester. Sama halnya seperti berlari, jika Anda ingin menjadi pelari, larilah. Begitu juga dengan menulis. Memang ada pelatihan menulis dengan bermacam teorinya tapi akhirnya mereka akan bilang “Menulislah!”

3. Menentukan Standar Tulisan

Cari penulis yang menurut Anda hebat dan jadikan mereka sebagai standar tulisan Anda. Saya sendiri melakukan ini hingga sekarang. Untuk penulisan buku, saya mengambil Deke mcClelland sebagai standar. Untuk penulisan tutorial di internet, saya berguru pada Constantin Potorac, penulis Psdtuts+. Ketika macet waktu menulis tutorial di internet, saya biasa membaca kembali tulisannya. Untuk penulisan artikel desain, saya sangat menyukai smashingmagazine dan webdesignerdepot. Saya biasa mengamati artikel di sana dan membandingkannya dengan artikel sejenis di situs lain. Dengan cara ini, saya mengetahui apa kelebihannya dan bisa mengaplikasikannya pada tulisan saya.

Mengambil standar tulisan pada penulis-penulis tingkat dunia memang tidak akan membuat Anda lebih hebat dari mereka. Setidaknya, ini akan memacu Anda untuk terus menulis lebih baik.

4. Konsisten dengan Standar Tulisan

Dengan mengambil standar penulisan pada penulis tingkat tinggi, Anda akan dipacu untuk menulis lebih baik. Tentu saja, untuk menghasilkan tulisan terbaik dibutuhkan waktu dan keuletan. Anda tidak akan bisa menghasilkan tulisan yang baik hanya dalam satu atau dua jam. Kondisi ini mungkin membuat Anda mundur dari standar dan akhirnya berpuas diri dengan kualitas seadanya. Di sinilah dibutuhkan konsistensi. Paksa diri Anda untuk selalu menghasilkan tulisan yang lebih baik dari tulisan sebelumnya. Memang berat dan melelahkan namun hasilnya akan sepadan.

5. Mempelajari Skill Lain yang Berhubungan Dengan menulis

Kenyataannya ada banyak penulis dan calon penulis yang siap bersaing dengan Anda. Jika Anda hanya sekedar bisa menulis maka tidak akan ada kelebihannya dengan penulis lain. Oleh karena itu, cobalah untuk mempelajari skill lain yang bisa membuat Anda menonjol.

Misalnya, seorang penulis buku sebaiknya belajar InDesign agar bisa membuat layoutnya sendiri dan bisa bebas bereksperimen. Dengan skill ini, setiap bukunya akan menonjol karena biasanya pengarang lain menggunakan template dokumen yang sama dari penerbitnya. Jika Anda penulis blog, sebaiknya memahami kode-kode dasar HTML seperti pembuatan link atau penulisan class CSS. Bahkan akan lebih bagus lagi jika si penulis bisa melakukan editing gambar sederhana agar tampilan artikel blognya lebih menarik.

Inilah beberapa langkah yang saya temukan sangat efektif untuk meningkatkan kualitas tulisan. Bagaimana menurut Anda, punya tips yang ingin ditambahkan?

Sumber gambar:

Possibly Related Posts

We Have 38 Awesome Comments!

  1. Gus Ikhwan says:

    untuk yang konsisten ini, emang sulit selain butuh waktu dan proses lama, tapi jika kita ulet tanpa menyerah suatu saat akan mendapatkan tuahnya

  2. Gus Ikhwan says:

    setelah berkunjung ke blognya agus siswoyo, langsung ke sini ternyata topiknya masih seputar menulis dan penulis, ternyata pertamax aman :)

    Cara terbaik untuk meningkatkan sebuah kemampuan adalah dengan terus melakukannya dan berlatih. kita ambil sedikit contoh, Seorang sopir akan mahir mengendarai mobilnya, bila setiap hari dia selalu berada di balik kemudi. Praktik, praktik dan praktik.

    Sesekali saja dia membaca buku atau bertanya kepada orang lain, untuk menyempurnakan caranya berkendara. Sesekali pula dia melihat orang lain melakukannya, lalu dia tiru. Begitupun menulis. Menulislah terus, lalu baca buku orang lain, praktik, tiru cara orang lain, praktik dan seterusnya.

    Jangan lupa untuk bergaul di lingkungan penulis. Ini menjadi salah satu hukum alam, bahwa bila Anda selalu dekat dengan harimau, maka lama-lama Anda pun akan pintar mengaum atau mencakar. Jika Anda selalu akrab dengan pencopet, suatu saat Andapun akan pintar mencopet. Menulis pun demikian.

    miliki mentor juga perlu mas jepri. Saya sangat menyarankan kepada penulis untuk memiliki minimal satu mentor, untuk meningkatkan kemampuan menulis. Jangan merasa berat dulu untuk mencari mentor, karena mentor bisa berarti macam-macam.

    Dengan memiliki mentor, maka akan mendapatkan role model penulisan yang sudah terbukti manjur. Anda tidak akan menjadi kuda binal yang lepas kendali, punya nafsu besar dalam menulis tapi sama sekali tidak beraturan.

    maaf, kalau kepanjangan

    • Jeprie says:

      Kalau menurut saya, dalam meningkatkan skill menulis, membaca lebih penting dari praktek menulis. Dengan sering membaca kita akan tahu standar dan gaya tulisan yang baik.

      Kebutuhan mentor menurut saya tergantung pribadi masing-masing. Kalau saya lebih suka belajar sendiri, otodidak. Selain itu, saya bukan penulis beneran, hanya penulis tutorial.

    • Jeprie says:

      Memang harus saya akui, memiliki mentor akan menjadi masukan yang bagus. Kita bisa memperoleh perspektif dari sudut pandang lain. Menarik juga artikel di Smashing Magazine, Web Designer, Don’t Do It Alone. Smashing Magazine malah membayar konsultan khusus yang bisa memberikan sudut pandang unik.

    • Muhlis says:

      hiks hiks ngejar pertamax yah…

      saya baru hari ini ngunjungi situs ini. tutorialnya sangat bermanfaat. berbobot. gaya menulisnya serius, berisi, penuh pengalaman dan liku-liku. memancing kita untuk berkomentar banyak. makanya komentar kamu juga jadi banyak. hehe. pengen juga nih nerapin disitus saya (tutshow.com)

      • jeprie says:

        Terima kasih. Sebetulnya daripada menulis artikel tidak jelas atau tidka bermanfaat. Kita bisa mencontoh Tutorial9. Situs ini jarang di-update, tapi setiap artikelnya dijamin pasti berkualitas.

  3. Agus Siswoyo says:

    Tulisan yang lengkap sekali. Yang perlu saya pelajari lagi mungkin di poin 4. Bisa konsisten menulis sesuai standard tidaklah mudah. Seringkali kita tergoda menulis hal-hal yang sebenarnya bukan ‘level’ kita. Saya tidak bermaksud memandang rendah tulisan lain, hanya saja menulis artikel yang dibawah kemampuan kita hanya akan membawa kita kembali ke level di bawahnya.

    • Jeprie says:

      Betul sekali. Apalagi untuk menulis artikel yang tidak komersil, sulit sekali untuk mencoba mempertahankan standar.

  4. antokoe says:

    wah mampir ke blog ini ketemu yang saya cari tentang standar penulisan. Menulis di blog memang kadang menemui kebuntuan, sampai-sampai blognya jablay.
    terima kasih, akan saya coba amalkan ilmu dari blog ini.. :)

    • Jeprie says:

      Maksunya jarang di-update ya? Seperti dikatakan di atas, makin sering menulis skill kita makin terasah.

      Saya sendiri sedang dalam rangka mengasah skill menulis. Update blog ini bisa 3-4x seminggu.

  5. Penerjemah says:

    Wah kebetulan saya lagi belajar menulis dengan baik nih. Menulis mungkin bisa diibaratkan mata pedang, yang harus selalu diasah agar menjadi tajam :D

  6. dani says:

    Mas Jeprie,
    saya melihatnya hanya 2 hal utama: membaca dan menulis. Dari sana ada yang sudah menentukan gaya penyampaian dari awal. Lainnya menemukan sambil jalan. Membaca, saya anggap teorinya. Menulis, sebagai praktiknya. Entah jika dikatakan ada yang memang berbakat menulis, seperti juga orang disebut memiliki bakat dalam seni. :)

    • Jeprie says:

      Saya sangat setuju dengan ini. Menurut saya, terlalu banyak berfikir dan berteori menurunkan produktivitas.

      Saya tidak percaya dengan bakat. Sebetulnya yang penting terus berlatih. Setelah kita cukup pintar, orang yang tidak tahu proses akan mengatakan bahwa kita berbakat.

      • dani says:

        Seandainya proses yang dinilai.

      • Jeprie says:

        Seandainya begitu. Itulah pentingnya nge-blog, lewat blog kita bisa memperlihatkan kerumitan proses dan itu bisa membuat orang lain -termasuk klien- lebih menghargai kita. Begitu kata David Airey, desainer logo terkenal.

  7. ajir says:

    nice info bg jep..cukup membantu para blogger yang kebingungan dalam menulis seperti saya :D

  8. fansmaniac says:

    Saya lebih suka penulis yang menceritakan tentang pengalaman pribadi jadi dia praktek dan dia bagikan informasinya. Terkadang seorang penulis yang hebat adalah orang yang menguasai apa yang dtulisnya artinya ia menceritakan lika likunya berdasarkan apa yang ia dapatkan sehingga memancing orang yang ingin belajar.
    Jadi seorang penulis sebaiknya bukan seorang yang sedang belajar tetapi seorang yang menguasai apa yang ditulisnya, karena akan dibaca oleh banyak orang.

    Tentunya dalam hal ini skill menulis juga harus dikuasai seperti apa yang disebutkan diatas.

    Salam kenal mas :)

    • Jeprie says:

      Ya, memang idealnya seperti itu. Anda pasti akan memperoleh itu jika membuka situs-situs besar. Walaupun begitu semua ada prosesnya, dari pemula perlahan-lahan menjadi ahli.

  9. jaka zulham says:

    the key to writing is writing.
    saya suka dengan penggalan kata kata diatas, sangat memberikan motivasi kepada kita dalam hal menulis.

    saya seorang blogger sharing tutorial, http://jakazulham.blogspot.com kadang kala saya kehabisan kata kata dalam membahasnya.

    thank’s to info.

  10. iskandaria says:

    Tips-tipsnya sudah pas mas. Tidak ada tambahan lagi dari saya. Kuncinya cuma terletak pada membaca dan menulis. Plus adanya kemauan/niat yang kuat untuk terus menjadi lebih baik lagi dalam menghasilkan tulisan.

    Oya, sedikit di luar topik. Apa warna teks/font pada area posting dan komentar tidak bisa dipertajam lagi mas? Menurut saya agak menyulitkan untuk dibaca nih. Warna teksnya terlalu terang dan hampir sama dengan warna latar. Kontrasnya masih kurang pas menurut saya. Mungkin untuk warna teks bisa dipilih #333 saja (hitam yang tidak begitu pekat).

    Blog Anda kan banyak mengupas tentang desain. Jadi semestinya masalah tipografi juga diperhatikan. Biar pembaca lebih mudah menyimak konten blog ini, terutama yang mengalami gangguan penglihatan kontras warna.

    • jeprie says:

      “Plus adanya kemauan/niat yang kuat untuk terus menjadi lebih baik lagi dalam menghasilkan tulisan.” -Iskandaria

      Terima kasih, itulah yang saya maksud dengan konsistensi dalam standar penulisan.

      Terima kasih, saya sudah mencoba sarannya. Menurut saya terlalu banyak kontras, saya lebih suka seperti ini, dengan cara ini link juga lebih mudah dibedakan. Anyway, trims atas sarannya, nanti saya coba lagi perbaiki.

  11. ayasofa says:

    perlu belajar banyak nih biar bisa saingan ma ayah heheh…

  12. grandchief says:

    Proses belajar untuk bisa menjadi penulis yang tulisannya dapat dimengerti dan bermanfaat bagi orang lain.Terkadang kesulitan saya pribadi adalah menjaga tulisan itu pada standar-standar tertentu karena biasanya saya menulis dari mood yang ada saat kita menulis.

    Mencoba mengasah penulisan melalui media blog yang sepertinya menarik untuk saya saat ini thanks tipsnya mas,bisa membuat semangat untuk menulis yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi :)

    • jeprie says:

      Menurut saya, sebaiknya menulis hanya dilakukan pada saat tidak ada mood ekstrim. Maksudnya, jangan ketika stress, pusing, bingung, marah, dst. Hasilnya akan terlihat sekali emosional. Sebaiknya dalam kondisi itu berhenti menulis.

      Saya pernah lihat beberapa blogger yang isinya ga jelas. Malah ada yang sengaja memposting “Hello World”. Entah apa maksudnya??? Mungkin itu terjadi karena mood yang tidak mendukung.

  13. Joko Sutarto says:

    Tulisan yang menarik. Saya tertarik dan ingin mengomentari poin tentang standar tulisan dan menambahkan poin membaca sebagai langkah meningkatkan kemampuan menulis.

    Terus terang, saya tak pernah mematok standar dalam tulisan saya. Yang ada saya hanya melakukan continuos improvement saja tanpa henti dalam menulis. Saat masa diawal-awal menulis atau ngeblog saya sering mencermati gaya menulis orang lain dengan menerapkan teknik “Membaca Kreatif“.

    Apa itu membaca kreatif? Ini sebenarnya yang paling penting bagi penulis. Yaitu melakukan sebuah proses membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan baru yang terdapat dalam sebuah bacaan. Kemudian melakukan komparasi perbandingan dengan pengetahuan-pengetahuan yang pernah kita dapatkan sebelumnya.

    • jeprie says:

      Saya rasa menerapkan standar berlaku jika kita sudah menjadikan seseorang sebagai teladan. Saya sendiri tidak terlalu banyak membaca karena menurut saya itu terlalu memusingkan. Saya lebih suka membaca tulisan dari orang-orang tertentu yang sudah diakui sebagai penulis terbaik.

    • dani says:

      Pak Joko,
      saya pelanggan topik ini via surel. Agak aneh bagi saya jika berkomentar tapi tidak mengikuti diskusinya.

      Saya pribadi tidak paham benar ‘copywriting’, standar penulisan, gaya menulis, atau sejenisnya. Tapi, apakah Pak Joko tidak memakai semacam templat atau satu gaya favorit saat menulis konten blog? Misal, menebalkan beberapa kata kunci, judul yang atraktif, mengaitkan dengan konten terkait, dan lainnya. Pikiran polos saya merasa pasti ada alasan mengapa suatu konten tersaji sedemikian rupa. :)

      • Jeprie says:

        Bagi saya, maksud standar penulisan di sini lebih tepat ke meniru.

        Saya tidak ingin mempersulit dengan membuat kriteria-kriteria tertentu. Bagi saya, reputasi seorang penulis terkenal sudah cukup untuk menjadikannya sebagai standar. Misalnya, standar saya adalah Scott Kelby, Deke mcClelland, dan Constantin Potorac. Jadi, standar saya berarti meniru ketiga orang ini.

      • dani says:

        Mas Jeprie,
        item apa saja yang Mas Jeprie (ingin) tiru itu? Apanya mereka yang Mas Jeprie lihat menarik untuk ditiru [sambil saya buka-buka situs mereka]?

      • jeprie says:

        Kalau Scott Kelby dia bisa menjelaskan dengan bahasa singkat dan mudah, cocok untuk pemula. Saya bilang dia itu tipe guru, tujuannya agar orang lain bisa dan paham.

        Deke mcClelland itu kelebihannya bisa membahas hal-hal teknis, seperti algoritma atau perhitungan matematis suatu perintah, dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti dan sering kali lucu. Cocok untuk menengah ke atas yang ingin memahami konsep cara kerja program desain. Dia ini semacam ilmuwan yang tahu secara detail kejadian di balik suatu proses.

        Kalau Constantin Potorac itu murni seniman grafis. Dia tidak akan mempedulikan masalah teknis apalagi perhitungan. Yang penting baginya adalah hasil yang bagus. Cara menulisnya langsung ke sasaran. Dari tulisannya kita bisa memahami pemikiran dan cara kerja seorang seniman.

  14. satrya says:

    Point 4 dan 5 yang masih agk sulit mas,.

    Btw salam kenal :D

  15. Resep bisnis says:

    Untuk yang pertama menurut saya sangat sulit dan memang menjadi dasar utama jika ingin bisa menjadi penulis sukses.

    kalau terkadang ide menulis buntu itu karena saya kurang membaca itu sangat benar.

    Terimakasih.

  16. abd says:

    Pembahasannya lengkap, menarik banget buat saya yang masih belajar dan mengasah kemampuan menulis.

    Design blognya juga keren, ini kunjungan pertama saya di blog ini, kesan yang begitu menggoda untuk kembali mengunjungi blog ini.

    Salut dan sukses buat mas Jeprie.

Leave your comments here!